Jumat, 15 Mei 2020

Sulaymaniye Camii, Masjid Besar Kedua di Istanbul

Masjid Raya Sulaimaniah atau Sulaymaniye  Camii adalah masjid yang dibangun tahun 1550 - 1557 oleh Dinasti Utsmaniyah pada masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni yang terletak di dataran tinggi belakang Universitas Istanbul dan tak jauh dari Grand Bazaar.

Masjid ini merupakan Masjid kedua terbesar di Istanbul setelah Blue Mosque. Hanya saja karena letaknya jauh dari jalan besar maka jika kita ikut group tour sering tidak dimasukkan dalam agenda kunjungan.

Untuk menuju ke masjid ini dari Sultanahmed bisa naik Tram jurusan Bagcilar dan turun di Stasiun Beyazit. Tarif Tram jauh dekat 2,4TL tapi untuk trip kedua cuma 1,8TL. Turun stasiun jalan kaki sejauh 1 km melewati Grand Bazaar. Nah ini sekalian bisa dipakai untuk survey oleh-oleh,  apa saja jenis barangnya dan berapa harganya. Buat yang jarang jalan sepertiku ini lumayan juga capeknya. Ya hitung-hitung buat latihan biar pas thawaf dan sa'i sudah terbiasa.

Begitu masuk halaman masjid hujan salju turun dengan romantisnya. Kebayang dong orang dari negara tropis seumur hidup baru pertama kali merasakan diguyur es serut alami? Pokoknya norak banget deh. Sayangnya pas lagi njomblo jalan sendirian, jadilah aku ngomong sama kamera dibantu sama tongsis. Hihihi... Untung pengunjung tak begitu rame deh, bisa malu aku. Blah..!

Menyusuri lorong masjid ketemu sama kucing Turki yang selama ini cuma baca dari artikel-artikel. Memang benar kucing-kucing banyak berkeliaran di setiap sudut kota dan badannya bersih terawat serta gendut. Seperti bukan kucing liar.

Masjid besar berhalaman luas yang terletak di tepi Laut Marmara ini memiliki empat menara yang menunjukkan bahwa Sultan Sulaiman adalah Sultan keempat yang menyandang gelar Sultan Ottoman. Di komplek masjid terdapat Madrasah, Rumah Sakit (yang sekarang menjadi Apotik) dan juga pemakaman para keluarga dan tokoh kerajaan.

Masjid megah ini konon kabarnya dibangun untuk menyaingi Hagia Sophia yang didirikan pada jaman Konstantin. Sayangnya aku ga sempat masuk ke dalamnya sehingga tidak bisa mengabadikan secara langsung keindahannya.
#JalanJalanTurki
#MbolangTurki
#Istanbul
#MasjidSulaymaniye



Makam Sultan dan keluarganya



View Selat Bosphorus 

Makam 








Jumat, 10 April 2020

Penginapan Backpacker yang Murah dan OK di Istanbul

Perjalananku kali ini ke Turki tanggal 6 - 13 Februari dan Umroh tanggal 13 - 23 Februari 2020 sebenarnya ikut tour group. Tapi memang dasarnya suka mbolang maka aku mendahului berangkat biar bisa eksplore Turki lebih puas lagi.  Jika rombongan baru mulai berangkat pada tanggal 9, maka aku sudah duluan jalan sejak tanggal 6. Alhamdulillah dari Agen mengijinkan bisa beli tiket sendiri sehingga aku tinggal membayar paket tournya saja.

Berdasarkan hasil browsing sana sini akhirnya kuputuskan untuk menginap di Old Mile Suite yang ada female dormitorynya. Tempatnya tepat di atas Kebab House tapi pintu hotelnya ada di sampingnya.

Pertimbangan pilih hotel ini pertama dekat sekali dengan lokasi wisata utama hanya 300 meteran ke Blue Mosque dan Hagia Sophia, cuma 150 meter dari stasiun Metro Sultanahmet, 300 meter dari lokasi bus bandara dan bus hop on hop off serta harganya sangat murah cuma 145rban semalam sudah include sarapan menu Turki yang lengkap dan lezat. Di depan hotel ada minimarket dan restoranj banyak bertebaran di sekitar sini tapi harganya lumayan mahal. Jadi maaf aku numpang lewat saja ya...

Kamar ada di lantai 4 tanpa lift. Gpp hitung-hitung olahraga toh di kantor sudah biasa tiap hari naik turun ke lantai 3.  Tak perlu khawatir dengan bawaan, resepsionis siap membantu kita untuk membawa koper hingga ke atas. Di dalam kamar yang tidak terlalu luas terdapat dua bed tingkat untuk empat orang tamu dan satu kamar mandi lengkap dengan air panas. Tapi ga masalah kan cuma buat numpang tidur doang kan? Kalau kamarnya luas dan mewah ntar malah mager jadinya.

Sedikit kekurangannya adalah hotel tidak menyediakan toiletries jadi harap bawa handuk, sabun, odol dkk. nya sendiri ya.

#TurkiSoloTravelling
#HotelIstanbul
#BackpackerTurki

Sarapan di hotel

Menu sarapan banyak pilihannya

Suasana ruang makan

Tempat tidur

Blue Mosque di malam hari

Stasiun Tram Sultanahmed

Tarif bus bandara

Hop on hop off bus



Senin, 30 Maret 2020

Mbolang ke Istanbul Turki, Ini yang Perlu Diketahui


Istanbul adalah salah satu kota eksotis impian banyak orang dimana terdapat perpaduan dua budaya Timur dan Barat sekaligus. Kata orang sih mau datang di musim apapun akan selalu terlihat indah.

Alhamdulillah tanggal 7 - 13 Februari 2020 kemarin dikasih kesempatan sama Allah untuk mewujudkan impian yang sempat tertunda setahun itu. Buat yang suka mbolang berikut beberapa hal yang perlu diketahui dan disiapkan.

1. Cek cuaca atau musim
Ini penting agar pas tiba di sana kita tidak salah kostum. Kebayang kan pas lagi musim panas ternyata kita malah bawa baju dan jaket tebal? Karena kemarin pergi di bulan Februari pas musim dingin dan suhu sampai -2°C yang bahkan di Uludag Mountain hingga -6°C, maka sejak jauh hari sudah menyiapkan jaket dan sepatu winter, long jhon, sarung tangan, syal, kaos kaki termal dan kupluk. Pas di Blue Mosque Ketemu sama sister dari Suriah yang jualan syal pasmina dan kaos kaki wool, jadilah aku beli sama dia karena memang ga bawa dari Indonesia. Dan memang sangat membantu melawan dingin yang bagai dalam kulkas itu.

2. Cek Airport Tujuan
Sejak April 2019 penerbangan komersial Istanbul telah pindah ke Bandara yang baru yang merupakan Bandara terbesar di Eropa. Jika sebelumnya pesawat Internasional mendarat di Istanbul Attaturk Airport maka sekarang mendarat di New Istanbul Airport. Bandara Attaturk kemudian hanya dioperasikan sebagai bandara cargo serta General Aviation. Jadi pas beli tiket jangan sampai salah menentukan airport tujuan.

3. Transportasi Bandara & Lokal
Menuju pusat kota Istanbul tepatnya di Sultanahmet, jika ingin naik angkutan umum hanya tersedia bus bandara IST20 (Havaist). Waktu tempuhnya antara satu hingga dua jam tergantung kepadatan lalu lintasnya. Dari terminal kedatangan ikuti petunjuk menuju peron bus nanti ketemu lift turun ke lantai -2. Tiket bus seharga 18TL bisa dibayar dengan Istanbul Card maupun kartu kredit. Istanbul Card ini semacam e-money yang sekaligus bisa untuk naik tram, metro maupun kapal Ferry. Jadi lebih praktis tinggal tab tidak harus beli tiket saat mau naik kendaraan. Istanbul Card bisa ditop up di tiap stasiun maupun mini market. Tiket naik tram jauh dekat 2,4TL, yang lainnya belum mencoba.

4. Penginapan dan Makan
Jika ingin menghemat tenaga dan biaya maka pilihlah penginapan yang dekat dengan tempat wisata sekaligus dekat stasiun/halte bus. Biaya hidup di Istanbul terbilang tidak mahal, hampir sama dengan di Jakarta dengan kurs 1TL sebesar Rp 2.500. Menginap di Old Mile Hotel kamar dormitory 4 bed yang cuma 309 M Dari Sultanahmet dan 150 M Dari Stasiun Tram, tarif semalamnya hanya kena Rp 145rb sudah termasuk sarapan dengan menu pilihan yang lengkap. Ada salad bar, sup krim, roti dengan aneka selai, madu, teh/kopi/susu, kentang goreng, telur rebus, sosis, telur dadar, daging asap, dll. Tak lupa yoghurt dan aneka keju juga tersedia di meja. Untuk makan lengkap sekitar 25TL, cemilan roti simit, jagung bakar dll 3-10TL.

5. Lokasi Wisata
Di Istanbul saja lokasi wisatanya sangat banyak.  Jadi lebih baik tentukan dari awal mana saja yang ingin dikunjungi. Karena waktu yang terbatas kemarin hanya mengunjungi arena Sultanahmet (Blue Mosque, Topkapi Palace & Hagia Sophia), Grand Bazaar, Gerbang Istanbul University, Grand Bazaar, Masjid Sulaymaniye, Dolmabahce Palace (depannya doang) dan Karakoy untuk menikmati pemandangan Selat Bosphorus. Pas sudah gabung sama rombongan lanjut ke Bursa, Uludag Mountain, Istana Topkapi dan naik Cruise menyusuri Selat Bosphorus.

6. Makanan
Jika di Indonesia kita sangat familiar dengan Kebab, maka di Turki yang disebut Kebab adalah daging yang dipotong-potong (sapi, kambing maupun ayam) kemudian dipanggang. Jadi lebih tepat dibilang sate. Sementara Kebab versi Indonesia itu kalau di sana disebutnya adalah Doner (Daging yang dipanggang memutar). Sayuran lebih banyak dimakan mentah sebagai salad dan umumnya tidak pakai dressing mayonais, tapi cukup dikeceri lemon dan atau minyak zaitun saja. Daging juga tidak digoreng tapi cukup dipanggang atau dikukus. Karena pola makan yang sehat serta bergizi tinggi itu maka tak heran kulit orang Turki sangat bersih, kencang dan sehat. Ditambah lagi dengan wajah yang cantik dan ganteng maksimal maka berkeliling Turki akan sangat menyenangkan pandangan. Haha.. Oiya kalau bosan dengan menu Turki kita bisa mengunjungi Warung Nusantara yang terletak di Merzakefendi 9km dari Sultanahmet.

7. Bahasa
Sebagian besar orang Istanbul bisa berbahasa Inggris, jadi kita tidak perlu khawatir kalau mau bertanya atau sekedar ngobrol ringan dengan mereka. Kalaupun kepepet masih bisa pakai bahasa Tarzan kan? Dan mereka adalah orang-orang yang ramah.

8. Oleh-oleh
Orang Indonesia kalau melancong sebagian besar pasti akan beli oleh-oleh yang khas dari negara yang dikunjungi. Nah di Grand Bazaar adalah surganya. Tapi kita tetap harus pandai menawar. Berhubung aku ga suka dan ga bisa nawar maka lebih suka melipir belanja di pasar lama di samping dan belakang yang harganya sudah terpasang. Takut keblondrok. Nah, ini bahasa Indonesianya apa coba?

9. Penukaran Lira
Kurs Lira di Indonesia mahal. Pas tukar di Depok 1TL dihargai Rp 2.870. Waktu itu terpaksa menukar 209TL buat jaga-jaga bayar beli Istanbul Card (bus bandara), eh ternyata busnya bisa dibayar pakai kartu kredit. Ketika tarik Lira di ATM yang ada di Sultanahmet ternyata kursnya bagus banget cuma Rp 2.500. Jadi tak perlu bawa Lira dari Indonesia, lebih enak dan menguntungkan ambil di ATM di Turki saja.

Ok deh itu saja hal-hal yang perlu diketahui.  Kalau ada yang mau menambahkan silahkan saja dengan senang hati agar infonya bisa lebih lengkap. Terima kasih...

#JalanJalanTurki
#MbolangTurki
#Istanbul

Tram yang membelah kota

Bus Bandara

Hotelku. Murmer tapi strategis


Hagia Sophia

Sebagian menu sarapan di hotel

Naik cable car di Uludag

Istana Topkapi

Roti Ismit






Kamis, 06 Februari 2020

Menginap di Bandara KLIA


Menginap di Bandara KLIA
Meskipun sudah yang kedua kalinya mendarat di sini (seringnya sih di KLIA2) tapi tadi lupa kalau begitu mendarat harus naik kereta dulu untuk sampai ke loket imigrasi dan pengambilan bagasi. Jadilah pakai nanya dulu baru bisa sampai ke Balai Ketibaan.

Enaknya mendarat di sini adalah antrian Imigrasinya tidak mengular layaknya di KLIA2, jadi urusan stempel menyetempel lebih cepat. Trus jalan kakinya juga tidak gempor karena jarak menuju pengambilan bagasi lebih dekat.

Oh iya sejak di pesawat sudah diumumkan bagi penumpang yang habis bepergian dari China dalam waktu 14 hari sebelumnya diwajibkan lapor dan akan dikarantina selama 14 hari lebih dulu. Memang sih sejak dari Soetta suasananya sudah terlihat horor karena hampir semua penumpang bermasker. Bahkan salah satu marketplace ada yang bagi-bagi masker N95 gratis. Maunya sih pakai masker bengkoang tapi takut nanti kaya rai gedhek. Wekwekwek..

Mengingat di KLIA cuma sekedar numpang transit menunggu flight lanjutan besok pagi jam 4 makanya aku niatkan mau menginap di sini. Setelah keluar dari ambil bagasi langsung eksplorasi celingak-celinguk cari lokasi yang kondusif. Eh sama seorang bapak dikasih tahu kalau bisa tidur di Surau. O

Ok deh, lanjuut..! Kebetulan mau sholat jadi tidak ada salahnya kalau sekalian survey. Kelebihan lainnya kalau tidur di Surau adalah dekat toilet, jadi urusan ke belakang eh, ke samping ding jadi lebih enak juga. Kalau capek kursi pijit juga banyak tersedia di area kedatangan ini. Restoranpun buka sampai malam.  Dan yang paling penting tentunya Wifi-nya kenceng. Kenapa penting karena sudah direncanakan dari awal memang ga mau beli paket internet di sini. Sayang ah kan cuma transit sebentar. Eh pucuk dicinta ulampun tiba. Alhamdulillah kalau sudah rejeki ga akan kemana.

Begitu masuk ke Surau level 3 (kedatangan) kebetulan ketemu sama petugas kebersihan dan waktu nanya di mana bisa numpang tidur dia bilang boleh tidur di sini. Sik.. asyiiiik. Lumayanlah dari pada tidur di kursi tunggu jauh lebih enak tidur di Surau yang tempatnya lebih tertutup dan untuk menuju Balai Keberangkatan juga tinggal naik lift ke lantai 5.

Oh iya seperti halnya di KLIA2 di sinipun juga ada penitipan koper bagi yang transit dan cuma eksplore Malaysia seharian.

Ok deh sekarang mau pusing-pusing dulu cari shower room yang katanya ada di lantai atas. Kalau ga males pengen bersih-bersih dulu biar nanti  tetap wangi kalau difoto.

#BandaraKLIA
#SoloTravelling
#Malaysia

Suasana lantai 5 departure

Pintu masuk ke Surau lantai 3

Bagian dalam Surau, calon tempat tidur 

Penitipan bagasi dekat Surau

Capek? Pijatlah di sini

Warung burger di lt 3. Di lt 5 lebih banyak pilihan

Restoran di lt 5

Rabu, 29 Januari 2020

Sehari di Melaka Enaknya Ngapain Saja?



Sebagai backpacker yang baik dan benar, sepulang dari Jepang (Agustus 2018) sengaja akup pilihtransit yang paling lama di KLIA2 yaitu 16 jam sejak pagi hingga menjelang tengah malam. Memangnya mau ngapain? Ya dipakai buat jalan-jalan di Malaysia dong ah. Ke Kuala Lumpur sudah pernah 2 kali, jadi kali ini tujuannya adalah Melaka yang cukup ditempuh selama 2 jam naik bus dari Airport. Harga tiketnya RM 24 atau 86rb sekali jalan yang bisa dipesan langsung di loket yang ada di pintu keluar kedatangan.

Setelah hampir seminggu di Jepang bertemu dengan orang-orang yang ramah, baik hati dan suka menolong, pas naik bus dapat surprise dari Sopirnya yang kasar main bentak-bentak ke penumpang gara-gara salah ambil tempat duduk. Jadilah sepanjang perjalanan mending dipakai tidur saja daripada nanti kebawa emosi merusak mood dan malah jadi laper dan pengen makan yang banyak. Bisa tekor nanti dompetku.

Bus berhenti di Melaka Sentral yang merupakan terminal bus yang cukup besar. Untuk menuju pusat wisata World Heritage kita bisa naik bus Panorama dan berhenti di Bangunan Merah (Stadzhuys) dengan tarif RM3 atau naik Grab RM7.

Di komplek Bangunan Merah inilah yang bisa disebut Kota Tuanya Melaka ini dapat kita temukan beberapa obyek wisata yang bisa dikunjungi dan lokasinya berdekatan, yaitu Gereja St. Francis Xavier, Christ Church, Melaka River Cruise, Jonker Street (tapi bukanya hanya pas Weekend), Kincir Angin, dan bangunan dengan hiasan Mural. Jika haus jangan lupa minum es Cendol Durian dan leyeh-leyeh naik Becak hias macam yang ada di Alun-alun Kidul Jogja.

Sebenarnya pengen juga ke pantainya, sayang waktunya tak keburu karena harus segera balik ke Airport. Eh, di loket ketemu lagi sama petugasnya yang judes. Apa dikiranya aku ini TKI illegal apa ya? Huh..! Untung perut sudah kenyang, kalau tidak tak suruh traktir kau..!

#SoloTravel
#Melaka
#Malaysia



Minggu, 07 Juli 2019

PPDB DKI Jakarta yang Berakhir Bahagia


Setahun yangl anak Ragil masuk SMP Negeri di Jakarta dan tentunya menggunakan pendaftaran online PPDB. Mekanismenya sih sama, hanya saja waktu itu zonasinya masih per Kecamatan belum per Kelurahan seperti sekarang.

Alhamdulillah dia langsung keterima di SMP pilihan pertama dan ga perlu pakai acara deg-degan karena nilainya aman sehingga masuk urutan atas. Sempat ada drama karena awalnya salah dalam memilih sekolah tapi Alhamdulillah bisa diselesaikan setelah datang ke Posko.

Tahun ini giliran anak mbarep mau masuk SMA tapi untuk masuk SMA peringkat atas agak susah. Setelah lihat-lihat histori nilai tahun lalu plus nilai yang diterima lewat jalur Zonasi (anakku lewat jalur Non Zonasi), maka diputuskan untuk ambil Pilihan 1 di SMA 109 MIPA yang masuk kriteria menengah. Pilihan 2 dan 3 nya di SMA favorit ambil IPS.

Hari pertama dan kedua posisi masih aman. Pas hari ketiga ternyata posisinya sudah terlempar di semua sekolah. Langsung kepala nyut-nyutan meskipun selama beberapa hari terakhir sudah memperbanyak doa dan pasrah bongkokan sama Sang Pencipta.

Setelah bisa menguasai diri kusampaikan hal ini ke anakku. Sepertinya kamu ga dapat Negeri jadi kita harus cari pesantren seperti perjanjian awal kita dulu. Dan diapun setuju meskipun kulihat raut kekecewaan di wajahnya.

Mulailah aku nanya-nanya ke WAG Emak-emak SD anakku juga japri ke beberapa teman minta info pesantren mana yang masih buka. Ndilalahnya kok semuanya sudah tutup dan bahkan sudah ada yang mulai masuk. Akhirnya kembali aku memasrahkan diri sepenuhnya pada Allah, berserah diri di tengah doa, yakin bahwa semua peristiwa, kejadian serta apapun itu pasti atas ijinNya dan pasti Allah punya rencana yang terbaik buat anakku.

Satu jam menjelang penutupan pendaftaran mendadak ada japri masuk dari salah satu Mama teman SD anakku. Dia nanya memangnya sudah ga dapat Negeri ya mbak? Aku jawab iya karena sudah terlempar. Kemudian dia bilang kalau sudah terlempar bisa daftar lagi dari awal dan pilih sekolah lagi. Informasi yang sama sekali tidak aku ketahui karena dulu adiknya ga punya pengalaman terlempar dari daftar.

Dhuaaar..! Langsung dadaku berasa bergetar seperti dapat energi baru. Posisi saat itu sedang nyopir, maka langsung kupinggirkan mobil dan mulai buka web PPDB dan daftar kembali. Sempat telpon si mbarep apakah mau tetap di sekolah yang sama tapi jadinya ambil IPS atau ambil MIPA tapi di sekolah lain. Dia pilih tetap di SMA 109 saja.

Tanpa buang waktu aku mulai nunal-nunul keypad HP. Dan jreeeng..! Alhamdulillah dapat posisi aman. Langsung saat itu juga aku tergugu menangis tersedu-sedu sambil tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur. Sampai pendaftaran ditutup posisi sama sekali tidak bergeser.

Dan hari ini Sabtu, 6 Juli 2019 kami datang ke sekolah untuk lapor diri. Masya Allah, sekolahnya ternyata luas, masjidnya besar, lingkungannya hijau, sejuk dan bersih. Dan yang terpenting lapangan basketnya ada dua dan bagus. Ini sebenarnya yang jadi pertimbangan anak Lanang dalam mencari sekolah. Jadi pas banget. Padahal kami sama sekali belum pernah survey untuk melihat sekolah ini sebelumnya. Maklum selama ini hanya mengandalkan informasi dari internet.

Jika mengingat kembali proses mengikuti PPDB kemarin rasanya seperti sedang menunggu proses lahiran anak pertama. Ya mules, ya deg-degan, ya panik, pokoknya nano-nano banget deh. Jika yang lain galau karena sistem PPDBnya, diriku galau karena kudet. Hahaha..

Alhamdulillah semuanya sudah berlalu dan tinggal menyiapkan bagaimana ke depannya. Bismillah..