Kamis, 23 Agustus 2018

Tips Transportasi Irit di Jepang

Foto di samping Shinkansen. Naik? Kagak.
Jepang identik dengan mahal? Iya memang betul karena harga-harga di sana paling tidak 5x lipat dibandingkan harga di Indonesia. Tapi tak perlu khawatir karena kalau kita tahu tips dan triknya maka hal itu tidak akan jadi masalah. Caranya bagaimana?

Untuk transportasi sebaiknya beli tiket pass. Ada macam-macam tiket pass yang ditawarkan seperti JR Pass yang selain mengcover tiket kereta JR juga bisa untuk naik Shinkansen, ada Metro Pass untuk kereta bawah tanah, dll.

Karena kemarin aku cuma muter-muter sekitar Nikko, Kawaguchiko dan Tokyo maka sayang kalau harus beli JR pass yang harganya lebih dari Rp 3,5 juta. Lha wong harga tiket pesawatnya saja PP cuma Rp 3 juta je.  Ga papa deh tidak merasakan naik Shinkansen, bisa foto di dekatnya saja aku sudah bahagia. Haha.. Jadi untuk transportasi aku pakai sbb :

1. Pasmo
Ini adalah kartu semacam e-money yang bisa digunakan untuk naik kereta, bus, belanja di minimart, dll. Harganya 3000 Yen dimana 500 Yen nya adalah deposit yang bisa diambil kembali dan 2500 Yen merupakan saldonya.

Pasmo dan Tokyo Subway Pass

2. Tokyo Subway Pass
Kartu ini bisa digunakan untuk naik subway yang dioperasikan oleh Tokyo Metro dan Toei. Harganya 800 Yen berlaku selama 24 jam sejak pertama kali digunakan. Jadi meskipun aku belinya pada tanggal 2 Agustus tapi baru aku pakai pada tanggal 6 Agustus. Kedua pass ini (Pasmo dan Tokyo Subway) dapat dibeli di Tourist Information yang ada di gate kedatangan Bandara Haneda. Pass ini akan sangat berguna terutama kalau kita nyasar salah jurusan ga perlu beli tiket lagi untuk kembali ke jalan yang benar.



3. Nikko Pass
Tiket seharga 2000 Yen ini berlaku untuk naik kereta lokal dari Asakusa Station ke Tobu Nikko Station PP dan bus lokal Nikko yang melintasi area World Heritage (seputar 3 Temple besar). Kalau kita mau ngeteng, tiket kereta ke Nikko sekali jalan saja paling murah seharga 1360 Yen atau 2720 Yen belum termasuk bus lokal di Nikko. Kalau mau naik kereta Express jauh lebih mahal lagi sekitar 2500 Yen sekali jalan. Karena waktu tempuhnya hanya selisih sekitar 30 menit, sebagai warga backpacker yang baik ya jelas pilih yang Murmer saja. Hehehe.. Pass ini bisa dibeli secara online dan nanti bisa ditukar voucher di Tobu Tourist Information Center di lantai 1 Asakusa Station. Oiya Pass ini tidak bisa dipakai di mesin tiket, cukup ditunjukkan ke petugas atau driver bus saat naik atau turun.

Tempat penukaran Nikko Pass


Stasiun Tobu Nikko

Nikko Pass

4. Highway Bus
Untuk ke Kawaguchiko tiket ini yang paling murah dibandingkan naik kereta atau yang lain. Harganya 1800 Yen sekali jalan. Karena saat itu pas ada Festival di Kawaguchiko, maka aku beli online sejak jauh hari karena khawatir tak kebagian tiket. Saat beli kita bisa sekalian pilih tempat duduk dan disediakan seat khusus untuk wanita lho. Perjalanan berangkat dari Shibuya Mark City lantai 5 dan berakhir di Kawaguchiko Station ditempuh antara 2,5 sd 3 jam.

Menunggu Highway Bus

Interior Highway Bus. Seat 2-2, ada toiletnya

5. Retro Pass
Kalau yang ini adalah Pass untuk muter-muter selama di Kawaguchiko seharga 1500 Yen dan berlaku selama 2 hari. Tiket bisa dibeli di loket Sightseeing bus Counter yang terletak di depan Kawaguchiko Station serta bisa digunakan untuk Red, Green dan Blue Line Bus. Kalau ngeteng sekali perjalanan ke satu tujuan wisata (tempat wisata di sini banyak banget) tiketnya antara 200 - 800 Yen. Jangan lupa tunjukkan Pass ini ke drivernya saat akan turun agar tidak disuruh bayar cash.



Stasiun Kawaguchiko


Tempat pembelian Retro Pass


Penampakan Bus Green Line
Dah itu saja tipsnya. Jadi tenang saja kantong kita ga bakalan jebol kok meski jalan-jalan di negara yang berbiaya hidup mahal.



Minggu, 29 Juli 2018

Ngemall

 
Dua ABG mau ngemall
Dalam sebulan berapa kali mengajak keluarga jalan-jalan ke Mall? Kalau aku sih belum tentu juga sebulan sekali karena selain pusing melihat orang berweliweran, maunya kalau beli sesuatu itu ya seperlunya saja, tidak suka window shopping.

Memang apa sih tujuan ke mall? Kalau buat ngopi, aku lebih suka beli kopi single origin bijian, digiling dan diseduh sendiri. Belanja sayuran dan buah sudah rutin ku lakukan di pasar seminggu sekali. Belanja bulanan mending ke supermarket dekat rumah. Makan di resto, selain harganya mahal kadang rasanya kurang cocok di lidah, mending bikin sendiri di rumah. Makannya puas, rasanya sesuai selera, lebih sehat dan yang pasti irit. Duitnya bisa ditabung buat mbolang. Ya ga.. ya ga..?

Hari ini sengaja mengajak anak-anak makan di restoran Jepang sebagai kompensasi karena Minggu depan mau ditinggal pergi seminggu. Emaknya mau mbolang biar ga dibilang kurang piknik. Bukan karena habis gajian tapi sebenarnya karena habis dapat door prize e-money yang isinya lumayan bisa buat makan 2 kali di tempat itu. Namanya emak-emak memang ga mau rugi ya?

Restoran Jepang halal yang akhirnya menjadi tujuan

Sengaja datang pagi-pagi jam 10 biar mall belum ramai. Ternyata restoran sushi yang mau dituju bukanya jam 11. Katanya sih halal, tapi celingak-celingak cari logo halalnya kok ga ketemu. Jadilah keliling cari tempat lain dan ketemu sama restoran yang jual Udon dan Tempura plus ada logo halal segede gambreng di depannya.

Anak-anak pilih Udon Kari plus 3 buah Tempura Nori, udang dan sayuran. Yang terakhir aslinya sih sebenarnya bakwan, tapi karena ala Jepang harganya jadi mahal, 11rb. Hehehe.. Untuk minuman ada Ocha dan lemon tea yang bisa direfill  sepuasnya. Secara keseluruhan puas dengan layanannya.

Udon dan tempura

Selesai makan diselingi ngobrol ya langsung pulang. Sama sekali ga tertarik buat keliling. Eh bukan pulang ding, tapi mampir dulu ke pasar buat belanja sayuran buat stock di kulkas selama seminggu. 

Begitulah liburanku hari ini. Alhamdulillah anak-anak juga ga pernah merengek minta ke mall karena sejak kecil mereka seringnya memang diajak jalan main outdoor. Bagaimana dengan liburanmu teman?




Minggu, 15 Juli 2018

Bakat Terpendam

Fresh From The Panggangan

Kemarin sore sesampainya dari silaturahim dengan teman-teman kuliah di Jogja tiba-tiba ada notifikasi tag namaku di FB. Setelah ku buka ternyata isinya adalah pengumuman pemenang lomba foto Lebaran Kagama Kita. Dan surpriseeee..! Ternyata aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang untuk katagori "Behind the Lebaran". Ga nyangka banget karena waktu itu ngirimnya niatnya cuma untuk meramaikan lomba saja dan juga mengingat ribuan foto-foto yang dikirimkan juga keren-keren. 

Waktu itu aku mengirimkan tiga foto perjalanan saat mudik ke Jogja yaitu Terkapar Kelelahan, Sekoteng Legendaris dan Bakpia Fresh From The Panggangan. Alhamdulillah foto Terkapar Kelelahan yang kemudian dipilih sebagai salah satu pemenang. Dan ini adalah kemenangan untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya pernah menang juga lomba foto Ngopi.

Terkapar Kelelahan

Foto Terkapar Kelelahan ini diambil jam 04.00 pagi di Masjid Rest Area Tol Cipali. Saat itu arus lalu lintas dari Cikampek ke arah Karawang memang macet cukup parah sehingga banyak orang yang kemudian memilih beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. 


Baru akhir-akhir ini aku menyadari ternyata punya beberapa bakat terpendam yang awalnya sebenarnya cuma dari iseng. Mulai dari ngusili teman-teman untuk dibuat komik, nekad manggung di stand up comedy, nyanyi di acara-acara reuni hingga iseng jeprat-jepret dari kamera HP maupun kamera saku. Dan hasilnyapun tak begitu mengecewakan meskipun banyak juga yang tertawa ngakak karena kegelian.

Hmmm.. tahu gitu kenapa dulu aku ga jadi Tukang Insinyur saja ya?
Sekoteng Legendaris

Pengumuman Pemenang


Jumat, 29 Juni 2018

Pengajuan Visa Waiver Jepang : Mudah dan Nol Rupiah


Jepang adalah salah negara yang masuk dalam salah satu list negara impian yang ingin aku kunjungi. Pertama kali mengenal Jepang dari Oshin, serial TV legendaris yang sangat menginspirasi. Bagi generasi tahun 80an pasti tahu serial ini karena waktu itu diputar di satu-satunya saluran TV yang ada yaitu TVRI.

Karena ada kemudahan bagi pemegang epaspor yang ingin jalan-jalan ke Jepang berupa fasilitas bebas visa (Visa Waiver), maka setelah mendapatkan tiket promo untuk bulan Agustus nanti dan kebetulan masa berlaku paspor habis di bulan November, ku putuskan untuk sekalian membuat epaspor. Tips membuat epaspor dapat dilihat di sini.


Untuk mengajukan visa Waiver sangatlah mudah. Cukup datang ke Kedutaan Jepang yang ada di Jl MH Thamrin (sederetan dengan Plaza Indonesia) dengan membawa epaspor dan mengisi form registrasi. Waktunya ditentukan antara jam 08.30 - 12.00 WIB. Tidak ada persyaratan ribet seperti KTP, KK, tiket pesawat PP, booking hotel, maupun copy buku tabungan yang harus bersaldo puluhan juta. Bagi pemegang paspor biasa tetap harus menyiapkan dokumen dan persyaratan tersebut plus membayar biaya pembuatan visa untuk single entry saja sebesar Rp 525.000. Lumayan kan?

Form registrasi bisa didownload di website Kedutaan atau bisa juga langsung diisi di tempat karena sudah disediakan di sana. Jadi kemarin aku mengambil nomor antrian  lebih dulu dan sambil menunggu panggilan ku gunakan untuk mengisi form. Cukup menunggu 15 menit langsung dipanggil dan diminta menyerahkan epaspor. Cuma ditanya "ini pertama kali mengajukan visa Waiver?". Dah gitu doang. Setelah itu dia bilang kalau epaspor yang sudah distempel visa bisa diambil besoknya pada jam 13.30 - 15.00 WIB tanpa biaya sepeserpun  dan dapat diwakilkan tanpa surat kuasa. Kemarin minta tolong suami yang ambil. Oh iya visa Waiver juga bisa diajukan ke VFS yang ada di Kuningan tapi ada biayanya sebesar Rp 120.000.

Dan inilah dia si Visa itu sudah terstempel manis di pasporku. Berlaku selama 3 tahun dengan batasan maksimal 15 hari per kunjungan. Asyik kan?


Senin, 28 Mei 2018

Tips Membuat ePaspor

Mengapa harus epaspor? Ya, karena kalau sudah punya epaspor maka kita akan dapat fasilitas bebas visa ke Jepang untuk turis 15 hari per kunjungan selama 3 tahun. Jadi nanti kita tidak perlu apply visa dengan persyaratan dokumen macam-macam itu. Tapi kita tetap harus melakukan registrasi di Kedutaan sebelum berangkat. Jadi secara biaya lebih murah, dari sisi waktu dan tenagapun juga efisien.

Selain bebas visa (Visa Waiver) ke Jepang, dengan epaspor kita akan mendapatkan kemudahan di bandara  yaitu tidak perlu antri di konter Imigrasi karena disediakan pintu masuk khusus sehingga tentunya akan mempercepat proses boarding.  Oiya epaspor hanya bisa dibuat di Kantor Imigrasi tertentu yaitu di Jakarta, Batam dan Surabaya.

Cara membuat epaspor cukup mudah kok asal tau tips dan triknya.

 1. Daftar antrian online.
Dulu untuk dapat antrian ini kita harus datang di pagi buta karena kesiangan sedikit bisa kehabisan antrian. Ya karena antrian ini memang ada kuota hariannya. Sekarang antriannya dilakukan secara online di https://antrian.imigrasi.go.id. Kuota antrian biasanya hanya dibuka di akhir pekan dan harus sering-sering cek ke web kalau mau dapat antriannya karena persaingannya sangat ketat. Telat dikit kuota bakalan dah habis.
- Silahkan daftarkan alamat email kita
- Notifikasi aktivasi akun akan dikirim ke email. Kalau tidak ada di inbox agar cek ke junk mail
- Pilih waktu & imigrasi yg bisa e paspor. Kuota dibuka pas weekend

 2. Datang ke Imigrasi sesuai waktu yg dipilih paling tidak 15 menit sebelum jadual.
 - Antri di check in counter, siapkan data. Untuk paspor perpanjangan tidak perlu isi form lagi. Yang diminta hanya copy eKTP (KTP biasa tidak bisa ya) dan paspor lama serta menunjukkan aslinya. Tapi lebih baik bawa juga dokumen lainnya untuk berjaga-jaga.
 -  Setelah mendapat nomor antrian tunggu di kursi yang telah disediakan. Ada belasan konter sehingga saya cukup menunggu 1 jam saja untuk dipanggil.

3. Jawab pertanyaan dengan jujur
 - Saat interview jawab saja apa adanya. Waktu itu saya ditanya "Tujuannya mau ke mana kok buat epaspor? Pekerjaan sekarang apa?"
 - Jangan lupa di awal bilang mau ganti e paspor, khawatir nanti yang diproses malah paspor biasa.

Proses interview, pengisian data, foto dan sidik jari perlu waktu 15 menit. Setelah itu kita diberikan form pembayaran dan bukti pengambilan epaspor. Pembayaran sebesar Rp 655.000 dapat dilakukan melalui transfer di ATM maupun teller Bank yang ada di lantai 1.

Proses pembuatan epaspor selesai, total hanya perlu waktu 1,5 jam saja. Selanjutnya epaspor dapat diambil setelah 7 hari kerja. Untuk melakukan pengecekan apakah epaspor kita sudah jadi atau belum bisa dilakukan melalui WA Imigrasi terkait. Kalau untuk Jaksel nomornya 081381710123.

Catatan untuk Imigrasi Jaksel - Mampang
1. Layanannya cepat dan transparan
2. Petugasnya ramah dan sigap kecuali yang interview wajahnya dingin ala penyidik gitu. Pas difoto sampai grogi saya, disuruh nengok kiri malah nengok kanan. Hihihi
3. Ruangan dan toiletnya bersih
4. Tempat parkirnya sempit, jadi lebih baik bawa motor atau naik kendaraan umum saja atau kalau bawa mobil pastikan ada yang nyopiri. Dulu ada lapangan parkir luas di seberangnya tapi sekarang sudah ditutup.

Gimana sudahkah anda bikin paspor untuk menyelamatkan generasi muda dari kurang piknik?

Syarat penggantian paspor,
cukup bawa KTP dan paspor lama

Antrian di check in counter

Nomor antrian, sudah ada namanya

Nomor WA Gateway Service Kanim Jaksel

Rabu, 28 Maret 2018

Benarkah Kopi Penyebab Gangguan Lambung?


Pertengahan bulan Maret 2018 lalu saya terpaksa harus dirawat di Rumah Sakit selama empat hari karena didiagnosa Dispepsia atau maag. Penyebabnya karena pada saat minum obat analgesik lupa tidak sarapan dalam arti makan yang agak berat. Maklum saya biasa sarapan buah bukan nasi atau roti dan sejenisnya. Setelah minum obat mata berasa ngantuk. Saya pikir karena kurang tidur, jadi malah saya hajar pakai secangkir kopi. Lupa kalau ngantuknya karena efek samping dari obat yang saya minum.

Akibatnya tak lama kemudian badan berasa lemes. Karena sudah tidak bisa fokus kerja akhirnya saya tiduran di musholla. Bangun tidur malah mual dan keluarlah semua isi perut dengan suksesnya hingga dua kali. Pulangnya sepanjang jalan muntah-muntah sampai 10 kali (tepatnya tidak dihitung, wong tidak kepikiran ngitung saking sudah klengernya).

Selama di RS praktis saya tidak menjalankan ritual rutin ngopi pagi dan harus menahan diri sampai beberapa waktu lamanya. Setelah sepuluh hari terlewati dan hasil pemeriksaan lab sudah tidak ada gangguan lambung lagi maka dilakukan uji coba untuk ngopi lagi. Sengaja nyeduhnya agak encer. Yang biasanya takaran kopinya sebanyak dua sendok teh, kali ini cukup satu sendok teh. Ternyata aman dan lancar jaya. Baru besoknya takarannya kembali normal dan Alhamdulillah sampai sekarang si perut tidak menampakkan tanda-tanda protes.

Akhirnya saya simpulkan bahwa ternyata kopi bukan penyebab gangguan lambung, itu hanya mitos. Syaratnya adalah kopinya adalah kopi asli tanpa campuran apapun. Selama ini saya selalu membeli kopi yang masih dalam bentuk biji tapi sudah dipanggang dan baru digiling/diblender untuk persediaan selama seminggu. Diminumnya tanpa gula, tanpa susu, tanpa krimer dll. Pokoknya murni kopi. Kalaupun ada yang bilang kalau kopi tidak baik buat lambung, bisa jadi yang diminum adalah kopi sachetan yang kalau dibaca kandungannya lebih banyak berisi pemanis, perasa buatan dan bahan kimia lainnya. Setahu saya kopi itu justru malah tidak baik buat mata, bukan lainnya.

Jadi ayo kita ngopi lagi biar tetep happy..!


Jumat, 02 Februari 2018

Wisata Batu Seribu Songgo Langit Bantul

Rumah Seribu Kayu 
Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang ada di dekatnya memang sudah viral menjadi obyek wisata yang wajib dikunjungi. Tapi di sepanjang jalan itu masih banyak spot yang tak kalah cantik buat berfoto ria.

Nah, salah satunya adalah tempat ini, Batu Seribu Songgo Langit. Di sini kita bisa menikmati batu-batu yang berserakan dari yang berukuran kecil hingga sak hohah di tengah teduhnya pepohonan. Jangan lewatkan berfoto di Rumah Seribu Kayu dan Taman Tumpah yang unik. Mau outbound naik flying fox juga bisa. Semua itu cukup ditebus dengan tiket masuk seharga Rp 2.500 per orang dan parkir mobil Rp 5.000 saja tanpa ada pungutan lainnya. Murah kan?

Jadi ayo kita wisata ke Bantul..!

Menduduki Rumah Seribu Kayu 

Spot Taman Tumpah 

Jembatan menuju Rumah Seribu Kayu 

Bebatuan berserakan