Minggu, 15 Juli 2018

Bakat Terpendam

Fresh From The Panggangan

Kemarin sore sesampainya dari silaturahim dengan teman-teman kuliah di Jogja tiba-tiba ada notifikasi tag namaku di FB. Setelah ku buka ternyata isinya adalah pengumuman pemenang lomba foto Lebaran Kagama Kita. Dan surpriseeee..! Ternyata aku dinyatakan sebagai salah satu pemenang untuk katagori "Behind the Lebaran". Ga nyangka banget karena waktu itu ngirimnya niatnya cuma untuk meramaikan lomba saja dan juga mengingat ribuan foto-foto yang dikirimkan juga keren-keren. 

Waktu itu aku mengirimkan tiga foto perjalanan saat mudik ke Jogja yaitu Terkapar Kelelahan, Sekoteng Legendaris dan Bakpia Fresh From The Panggangan. Alhamdulillah foto Terkapar Kelelahan yang kemudian dipilih sebagai salah satu pemenang. Dan ini adalah kemenangan untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya pernah menang juga lomba foto Ngopi.

Terkapar Kelelahan

Foto Terkapar Kelelahan ini diambil jam 04.00 pagi di Masjid Rest Area Tol Cipali. Saat itu arus lalu lintas dari Cikampek ke arah Karawang memang macet cukup parah sehingga banyak orang yang kemudian memilih beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. 


Baru akhir-akhir ini aku menyadari ternyata punya beberapa bakat terpendam yang awalnya sebenarnya cuma dari iseng. Mulai dari ngusili teman-teman untuk dibuat komik, nekad manggung di stand up comedy, nyanyi di acara-acara reuni hingga iseng jeprat-jepret dari kamera HP maupun kamera saku. Dan hasilnyapun tak begitu mengecewakan meskipun banyak juga yang tertawa ngakak karena kegelian.

Hmmm.. tahu gitu kenapa dulu aku ga jadi Tukang Insinyur saja ya?
Sekoteng Legendaris

Pengumuman Pemenang


Jumat, 29 Juni 2018

Pengajuan Visa Waiver Jepang : Mudah dan Nol Rupiah


Jepang adalah salah negara yang masuk dalam salah satu list negara impian yang ingin aku kunjungi. Pertama kali mengenal Jepang dari Oshin, serial TV legendaris yang sangat menginspirasi. Bagi generasi tahun 80an pasti tahu serial ini karena waktu itu diputar di satu-satunya saluran TV yang ada yaitu TVRI.

Karena ada kemudahan bagi pemegang epaspor yang ingin jalan-jalan ke Jepang berupa fasilitas bebas visa (Visa Waiver), maka setelah mendapatkan tiket promo untuk bulan Agustus nanti dan kebetulan masa berlaku paspor habis di bulan November, ku putuskan untuk sekalian membuat epaspor. Tips membuat epaspor dapat dilihat di sini.


Untuk mengajukan visa Waiver sangatlah mudah. Cukup datang ke Kedutaan Jepang yang ada di Jl MH Thamrin (sederetan dengan Plaza Indonesia) dengan membawa epaspor dan mengisi form registrasi. Waktunya ditentukan antara jam 08.30 - 12.00 WIB. Tidak ada persyaratan ribet seperti KTP, KK, tiket pesawat PP, booking hotel, maupun copy buku tabungan yang harus bersaldo puluhan juta. Bagi pemegang paspor biasa tetap harus menyiapkan dokumen dan persyaratan tersebut plus membayar biaya pembuatan visa untuk single entry saja sebesar Rp 525.000. Lumayan kan?

Form registrasi bisa didownload di website Kedutaan atau bisa juga langsung diisi di tempat karena sudah disediakan di sana. Jadi kemarin aku mengambil nomor antrian  lebih dulu dan sambil menunggu panggilan ku gunakan untuk mengisi form. Cukup menunggu 15 menit langsung dipanggil dan diminta menyerahkan epaspor. Cuma ditanya "ini pertama kali mengajukan visa Waiver?". Dah gitu doang. Setelah itu dia bilang kalau epaspor yang sudah distempel visa bisa diambil besoknya pada jam 13.30 - 15.00 WIB tanpa biaya sepeserpun  dan dapat diwakilkan tanpa surat kuasa. Kemarin minta tolong suami yang ambil. Oh iya visa Waiver juga bisa diajukan ke VFS yang ada di Kuningan tapi ada biayanya sebesar Rp 120.000.

Dan inilah dia si Visa itu sudah terstempel manis di pasporku. Berlaku selama 3 tahun dengan batasan maksimal 15 hari per kunjungan. Asyik kan?


Senin, 28 Mei 2018

Tips Membuat ePaspor

Mengapa harus epaspor? Ya, karena kalau sudah punya epaspor maka kita akan dapat fasilitas bebas visa ke Jepang untuk turis 15 hari per kunjungan selama 3 tahun. Jadi nanti kita tidak perlu apply visa dengan persyaratan dokumen macam-macam itu. Tapi kita tetap harus melakukan registrasi di Kedutaan sebelum berangkat. Jadi secara biaya lebih murah, dari sisi waktu dan tenagapun juga efisien.

Selain bebas visa (Visa Waiver) ke Jepang, dengan epaspor kita akan mendapatkan kemudahan di bandara  yaitu tidak perlu antri di konter Imigrasi karena disediakan pintu masuk khusus sehingga tentunya akan mempercepat proses boarding.  Oiya epaspor hanya bisa dibuat di Kantor Imigrasi tertentu yaitu di Jakarta, Batam dan Surabaya.

Cara membuat epaspor cukup mudah kok asal tau tips dan triknya.

 1. Daftar antrian online.
Dulu untuk dapat antrian ini kita harus datang di pagi buta karena kesiangan sedikit bisa kehabisan antrian. Ya karena antrian ini memang ada kuota hariannya. Sekarang antriannya dilakukan secara online di https://antrian.imigrasi.go.id. Kuota antrian biasanya hanya dibuka di akhir pekan dan harus sering-sering cek ke web kalau mau dapat antriannya karena persaingannya sangat ketat. Telat dikit kuota bakalan dah habis.
- Silahkan daftarkan alamat email kita
- Notifikasi aktivasi akun akan dikirim ke email. Kalau tidak ada di inbox agar cek ke junk mail
- Pilih waktu & imigrasi yg bisa e paspor. Kuota dibuka pas weekend

 2. Datang ke Imigrasi sesuai waktu yg dipilih paling tidak 15 menit sebelum jadual.
 - Antri di check in counter, siapkan data. Untuk paspor perpanjangan tidak perlu isi form lagi. Yang diminta hanya copy eKTP (KTP biasa tidak bisa ya) dan paspor lama serta menunjukkan aslinya. Tapi lebih baik bawa juga dokumen lainnya untuk berjaga-jaga.
 -  Setelah mendapat nomor antrian tunggu di kursi yang telah disediakan. Ada belasan konter sehingga saya cukup menunggu 1 jam saja untuk dipanggil.

3. Jawab pertanyaan dengan jujur
 - Saat interview jawab saja apa adanya. Waktu itu saya ditanya "Tujuannya mau ke mana kok buat epaspor? Pekerjaan sekarang apa?"
 - Jangan lupa di awal bilang mau ganti e paspor, khawatir nanti yang diproses malah paspor biasa.

Proses interview, pengisian data, foto dan sidik jari perlu waktu 15 menit. Setelah itu kita diberikan form pembayaran dan bukti pengambilan epaspor. Pembayaran sebesar Rp 655.000 dapat dilakukan melalui transfer di ATM maupun teller Bank yang ada di lantai 1.

Proses pembuatan epaspor selesai, total hanya perlu waktu 1,5 jam saja. Selanjutnya epaspor dapat diambil setelah 7 hari kerja. Untuk melakukan pengecekan apakah epaspor kita sudah jadi atau belum bisa dilakukan melalui WA Imigrasi terkait. Kalau untuk Jaksel nomornya 081381710123.

Catatan untuk Imigrasi Jaksel - Mampang
1. Layanannya cepat dan transparan
2. Petugasnya ramah dan sigap kecuali yang interview wajahnya dingin ala penyidik gitu. Pas difoto sampai grogi saya, disuruh nengok kiri malah nengok kanan. Hihihi
3. Ruangan dan toiletnya bersih
4. Tempat parkirnya sempit, jadi lebih baik bawa motor atau naik kendaraan umum saja atau kalau bawa mobil pastikan ada yang nyopiri. Dulu ada lapangan parkir luas di seberangnya tapi sekarang sudah ditutup.

Gimana sudahkah anda bikin paspor untuk menyelamatkan generasi muda dari kurang piknik?

Syarat penggantian paspor,
cukup bawa KTP dan paspor lama

Antrian di check in counter

Nomor antrian, sudah ada namanya

Nomor WA Gateway Service Kanim Jaksel

Rabu, 28 Maret 2018

Benarkah Kopi Penyebab Gangguan Lambung?


Pertengahan bulan Maret 2018 lalu saya terpaksa harus dirawat di Rumah Sakit selama empat hari karena didiagnosa Dispepsia atau maag. Penyebabnya karena pada saat minum obat analgesik lupa tidak sarapan dalam arti makan yang agak berat. Maklum saya biasa sarapan buah bukan nasi atau roti dan sejenisnya. Setelah minum obat mata berasa ngantuk. Saya pikir karena kurang tidur, jadi malah saya hajar pakai secangkir kopi. Lupa kalau ngantuknya karena efek samping dari obat yang saya minum.

Akibatnya tak lama kemudian badan berasa lemes. Karena sudah tidak bisa fokus kerja akhirnya saya tiduran di musholla. Bangun tidur malah mual dan keluarlah semua isi perut dengan suksesnya hingga dua kali. Pulangnya sepanjang jalan muntah-muntah sampai 10 kali (tepatnya tidak dihitung, wong tidak kepikiran ngitung saking sudah klengernya).

Selama di RS praktis saya tidak menjalankan ritual rutin ngopi pagi dan harus menahan diri sampai beberapa waktu lamanya. Setelah sepuluh hari terlewati dan hasil pemeriksaan lab sudah tidak ada gangguan lambung lagi maka dilakukan uji coba untuk ngopi lagi. Sengaja nyeduhnya agak encer. Yang biasanya takaran kopinya sebanyak dua sendok teh, kali ini cukup satu sendok teh. Ternyata aman dan lancar jaya. Baru besoknya takarannya kembali normal dan Alhamdulillah sampai sekarang si perut tidak menampakkan tanda-tanda protes.

Akhirnya saya simpulkan bahwa ternyata kopi bukan penyebab gangguan lambung, itu hanya mitos. Syaratnya adalah kopinya adalah kopi asli tanpa campuran apapun. Selama ini saya selalu membeli kopi yang masih dalam bentuk biji tapi sudah dipanggang dan baru digiling/diblender untuk persediaan selama seminggu. Diminumnya tanpa gula, tanpa susu, tanpa krimer dll. Pokoknya murni kopi. Kalaupun ada yang bilang kalau kopi tidak baik buat lambung, bisa jadi yang diminum adalah kopi sachetan yang kalau dibaca kandungannya lebih banyak berisi pemanis, perasa buatan dan bahan kimia lainnya. Setahu saya kopi itu justru malah tidak baik buat mata, bukan lainnya.

Jadi ayo kita ngopi lagi biar tetep happy..!


Jumat, 02 Februari 2018

Wisata Batu Seribu Songgo Langit Bantul

Rumah Seribu Kayu 
Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang ada di dekatnya memang sudah viral menjadi obyek wisata yang wajib dikunjungi. Tapi di sepanjang jalan itu masih banyak spot yang tak kalah cantik buat berfoto ria.

Nah, salah satunya adalah tempat ini, Batu Seribu Songgo Langit. Di sini kita bisa menikmati batu-batu yang berserakan dari yang berukuran kecil hingga sak hohah di tengah teduhnya pepohonan. Jangan lewatkan berfoto di Rumah Seribu Kayu dan Taman Tumpah yang unik. Mau outbound naik flying fox juga bisa. Semua itu cukup ditebus dengan tiket masuk seharga Rp 2.500 per orang dan parkir mobil Rp 5.000 saja tanpa ada pungutan lainnya. Murah kan?

Jadi ayo kita wisata ke Bantul..!

Menduduki Rumah Seribu Kayu 

Spot Taman Tumpah 

Jembatan menuju Rumah Seribu Kayu 

Bebatuan berserakan

Sabtu, 23 Desember 2017

Kopi : Bukan Sekedar Minuman Biasa




Bermula karena punya pekerjaan yang mengharuskan banyak travelling ke seluruh penjuru tanah air, suka mampir ke kedai kopi saat berada di daerah, akhirnya tertarik untuk beli oleh-oleh Kopi setempat selain kaos dan makanan khas lainnya.

Tadinya ngopinya masih full gula, pelan tapi pasti mencoba mengurangi. Jika biasanya pakai 2 sendok teh (sdt) kemudian dikurangi menjadi 1 sdt, lalu 1/2 sdt dan akhirnya tanpa gula sama sekali.

Ih memangnya enak kopi tanpa gula? Memangnya tidak pahit? Justru setelah ngopi dengan cara ini, saya jadinya bisa membedakan rasa dan aroma kopi dari tempat yang berbeda. Kopi Wamena ada aroma Jeruknya, Kopi Amungme beraroma Coklat, Kopi Gayo aromanya kuat, agak pahit tapi ada rasa gurihnya dan minggu lalu baru dapat Kopi Kahayya Bulukumba yang begitu diminum berasa ada rempahnya.

Meskipun cara menyeduh Kopi itu beraneka rupa, tapi saya tetap setia dengan Kopi tubruk. Agar didapatkan cita rasa yang prima, saya biasa beli kopi dalam bentuk biji yang baru akan digiling pada saat akan diminum dan buat stock seminggu. Takaran favorit adalah 2 sdt Kopi untuk secangkir dan diseduh dengan air dengan sekitar 90°C. Oiya tingkat kehalusan giling juga berpengaruh terhadap rasa. Makin halus maka akan makin pahit.

Peminum Kopi hitam tanpa gula identik dengan pengopi kelas berat? Ah tidak juga. Buktinya saya cuma minum kopi sehari sekali di pagi hari. Di sore atau malam hari sama sekali tak berani karena mata ini bakalan mecicil semalaman. Dan ngopi dengan cara ini akan membuat kita tetap sehat karena tak terkontaminasi gula, perasa buatan maupun bahan pengawet pengawet.

Jadi sudahkah anda ngopi hari ini?

Minggu, 26 November 2017

Falsafah Kopi

Kemarin pagi saat belanja di pasar ditelpon adikku diminta pulang kampung karena ibu akan menjalani operasi tumor. Setelah browsing Alhamdulillah dapat tiket pesawat jam 21.30 wib yang berangkat dari Halim (lebih dekat rumah) dengan harga miring, cukup ditebus 300 ribuan saja. Jadi siangnya masih sempat masak buat keluarga untuk stock 3 hari ke depan.

Karena waktunya mepet, oleh2 beli Lapis Talas Bogor online. Tak perlu keluar uang karena bisa ditebus dengan tap cash. Menjelang berangkat lalu lintas sebagian besar jalurnya merah pertanda macet. No problem, akhirnya ke bandara diantar suami naik motor.

Malamnya ternyata jadual pesawat tidak on time karena justru take off sebelum jadualnya. Harusnya terbang jam 21.30, ternyata jam 21.15 sudah berangkat. Sampai Jogja juga lancar, cuaca cerah sehingga jadual landing jam 22.40 maju jadi jam 22.15 wib. Jadi bapak yang menjemputku tak perlu menunggu.

Pagi ini hari Minggu, 26 November 2017 ku antar ibu ke RS dan saat pemeriksaan Lab dan Radiologi bisa dibilang tak perlu mengantri. Begitu juga saat masuk ruang rawat inap, semuanya dimudahkan.

Dan siang ini saat kelaparan tinggal nunul2 order via gofood. Eh dapat voucher 5 buah. Jadilah order pempek buat pengganjal perut. Habis makan eh ngantuk. Seperti biasa apalagi obatnya kalau bukan kopi? Order lagi via gofood.

Hidup itu memang ibarat ngopi, akan terasa pahit kalau tak bisa menikmati. Dan di sinilah aku sekarang, memandang hujan sambil menyeruput secangkir kopi Arabica Temanggung Lanang.