Sabtu, 04 Maret 2017

Jalan-Jalan Hemat ke Bangkok (Day 2 : Grand Palace)

Sesuai rencana awal, hari kedua kami jalan-jalan ke tempat wisata  yang ada di sepanjang Sungai Chao Phraya. Dari penginapan jam 8 pagi kami naik Grab Car B115 menuju Central (Sathorn) Pier. Ini adalah dermaga yang juga terhubung dengan  BTS Sky Train. Di sini kita bisa pilih mau naik boat wisata seharga B100 per orang atau yang reguler. Karena ingin berbaur dengan warga setempat dan ngirit, tentu saja kami naik boat reguler berbendera oranye. Harga tiketnya menuju Dermaga Tha Chang yang dekat Grand Palace @B15 (6rb) saja. Selisihnya lumayan kan?

Sathorn Pier
Pagi itu boat penuh sesak karena bertepatan dengan jam masuk kantor. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan berupa gedung-gedung bertingkat, kuil maupun perkantoran. Sungai Chao Phraya masih menjadi andalan warga Bangkok karena lalu lintas jalan rayanya tak jauh beda dengan Jakarta yang sering macet parah. Meskipun air sungainya berwarna coklat tapi bersih dari sampah dan kotoran. Aku jadi teringat beberapa tahun yll saat naik perahu menyusuri Sungai Musi. Kalau saja itu dikelola dengan profesional pasti tak kalah dengan Bangkok.

Pagi yang sibuk, boat penuh sesak
Gedung Perkantoran sepanjang sungai

Keluar dari Dermaga Tha Chang, Grand Palace sudah ada di depan mata. Ini adalah bekas istana Raja yang menjadi salah satu icon Thailand. Katanya kalau belum mampir ke sini berarti belum ke Bangkok. Karena cuacanya panas, jangan lupa bawa topi/payung, kacamata dan pakai sunblock. Harga tiket masuknya lumayan mahal, B500 (200rb). Karena saat itu suasananya sangat ramai dan panas serta awang-awangan melihat luasnya istana ini, diputuskan tidak masuk ke dalamnya. Jadi kami nikmati saja suasana istana dari luar saja. Yang penting kan ada foto-fotonya. Dan inilah hasil foto-foto di luar Istana. Hehehe..




Deretan pertokoan di seberang Istana
Keluar dari Grand Palace rencananya mau ke Sanam Luang Park, tapi ternyata lagi ditutup karena sepertinya ada acara. Ya sudah lanjut lagi jalan kaki sekitar 800 meter menuju Wat Pho. Pas di dekat kantor Kementrian Pertahanan jangan lupa foto di depan patung Gajah Putih.

Cerita Wat Pho nanti lanjut lagi..

Jalan-jalan Murah ke Bangkok (Day 1 : Keberangkatan)

Mendaratnya di Don Mueang tapi gambar di dalamnya Suvarnabhumi. Mbuh. hehehe

Yeeey .. rencana perjalanan ke Bangkok sekeluarga selama 2 hari 3 malam (1 sd 3 Maret 2017) akhirnya kesampaian juga. Tiket promo dari Airasia yang telah dipesan dari 10 bulan yll seharga @Rp 1,4 juta telah di tangan. Itu seharga tiket pesawat dari Jakarta ke Surabaya. Sudah murah bayarnya dicicil pula selama 12 bulan. hehehe..

 Cerita diawali mulai berangkat dari rumah. Berhubung pas lihat maps lalu lintas di tol cukup padat, akhirnya diputuskan ke Bandara dengan Uber dan kereta. Kebetulan si Uber lagi kasih promo diskon 10rb per perjalanan. Jadi dari rumah naik Uber ke Stasiun UI (tarif 17rb cuma bayar 7rb) dan lanjut naik kereta ke Duri, per orang 3rb doang. Dari Duri lanjut pakai Uber lagi tarifnya 75rb.

Berhubung naik Airasia, kami langsung menuju Terminal 2F dan sampai sana pas sudah boarding. Berangkat on schedule jam 16.45 dan sampai Bandara Don Mueang Bangkok jam 20.15 atau 3,5 jam perjalanan. Tips kalau mau beli makanan murah di pesawat, lebih baik pre booking sekalian pada saat beli tiketnya. Lumayan dapat diskon 25%.

Sesuai prosedur masuk di negara orang, begitu mau keluar Bandara kita harus lapor ke Imigrasi setempat. Disarankan mengisi form imigrasi di pesawat ya, jadi begitu pramugari membagikan formnya segera saja dilengkapi datanya karena isiannya lumayan banyak. Jadi nanti di bandara bisa langsung antri untuk minta stempel dan keluar. Oiya di Don Mueang ini kita disediakan antrian khusus untuk warga ASEAN.

Pergi ke luar negeri wajib hukumnya beli SIM Card lokal agar tagihan HP tidak jebol. Nah, begitu menuju pintu keluar nanti sudah banyak orang yang menawarkan SIM Card khusus untuk turis. Aku memilih beli True seharga 299 Bath (120rb) dapat paket 7 hari unlimited data kecepatan 1,5GB dan free talk 100 Bath. Lumayan murah kan? Katanya ini provider yang paling OK di Bangkok.

Berhubung kami berangkat serombongan lenong, maka taksi online jadi pilihan utama transportasi selama di Bangkok. Dari Bandara ke penginapan Eco House kena 300 Bath (120rb). Berhubung drivernya ga bisa bahasa Inggris, akhirnya komunikasinya menggunakan bahasa Tarzan. Alhamdulillah lalu lintas tidak macet sehingga 30 menit sudah sampai tujuan.

Tara..! Dan sampailah di penginapan kami Eco House yang tarifnya cuma 600Bath (240rb) per malam untuk 4 orang. Kamarnya bersih dengan 3 tempat tidur, fasilitasnya ber AC, perlengkapan mandi, air panas, hair dryer serta minuman teh plus kopi. Air putih panas dan dingin tersedia free di dispenser. Yang tidak ada hanya sarapan saja, tapi tak masalah karena sebagai backpacker yang sudah berpengalaman kami tentu sudah bawa bekal pop mie dan roti dari rumah. Hahaha.. Tempatnya di daerah Ratchathevi tak jauh dari Jim Thomson Museum. Adanya di jalan kecil tapi mudah dicari karena ada arah petunjuk yang jelas. So jangan khawatir

Ok itu saja untuk hari pertama. Nantikan lagi seri berikutnya ya..

Belajar isi form imigrasi sendiri ya..

SIM Card lokal paket 7 hari unlimited data

Penginapan murah di Eco House

Minggu, 14 Juni 2015

Serunya Melihat Panen Rumput Laut di Oenggae, Rote

Lama juga ternyata saya tidak menulis di sini, sampai-sampai lupa caranya posting. Hehehe.. Semoga ke depan rasa malas ini tidak muncul lagi dan pergi menjauh ya..


Di Pantai Oenggae, Rote

Ok, saya akan memulai cerita tentang perjalanan ke Rote lagi. Meskipun ini kunjungan yang ketiga kalinya, tapi saya selalu merasa excited untuk mendatanginya. Ya, karena hanya di sinilah saya bias merasakan wisata di setiap sudut lokasinya. Mulai dari pantai yang mengitari pulau dengan pasir putih dan airnya yang jernih biru kehijauan, langitnya yang biru terang dihiasi awan putih sebersih kapas, pohon lontar yang berderet eksotis sepanjang jalan hingga tanah coklat akibat kekeringanpun tetap cantik dipandang mata.


Tujuan saya  ke Rote adalah dalam rangka mengunjungi program-program yang dijalankan oleh lembaga tempat saya bekerja (Dompet Dhuafa) di Rote Timur terutama di Papela. Dari Pelabuhan Ba’a ibukota Rote Ndao yang menjadi tempat bersandarnya kapal cepat, ditempuh selama 2 jam dengan naik motor. Meskipun begitu perjalanan sama sekali tidak melelahkan karena sepanjang perjalanan pemandangannya sangat memanjakan mata. Mbak Achi yang selalu menjemput saya sepertinya sengaja mengendarai motornya pelan-pelan seakan sudah tahu kebiasaan saya yang suka mengambil gambar sepanjang perjalanan.

View di perjalanan
Satu jam menjelang Papela kami mampir ke Kampung Oenggae yang ternyata menjadi salah satu lokasi program Dompet Dhuafa untuk para nelayan yang membiakkan rumput laut. Dan kebetulan pas saat panen sehingga kami bisa melihat mereka mengambil rumput laut itu secara langsung. 

Setibanya di rumah seorang warga yang menjadi anggota kelompok nelayan, saya melihat tumpukan rumput laut berwarna hijau segar yang baru saja dipanen dari laut. Sementara di sampingnya terdapat rumput laut yang tengah dijemur dan sudah setengah kering sehingga warnanya sudah menjadi coklat muda. Tak lama pemilik rumah keluar dan langsung mengajak kami menuju pantai tempat pembiakan rumput laut.
Tumpukan rumput laut hasil panenan

Kebetulan laut tengah surut sehingga kami bisa berjalan agak ke tengah. Pantainya sangat eksotik dihiasi oleh deretan pohon lontar yang daunnya melambai-lambai ditiup angin. Indah sekali. Di dalam air ternyata sudah banyak orang yang memanen rumput laut dengan menggunakan sampan sebagai tempat menampung hasil panenan. Tak hanya orang tua, anak-anakpun ada juga yang ikut serta. 
Deretan pohon lontar menyambut di tepi pantai

Rumput laut ini dipanen setelah berumur tiga bulan. Pembiakan dilakukan dengan membentangkan tali dan kemudian diberi rumbai-rumbai untuk menanam rumputnya. Salah satu nelayan yang saya tanya mengatakan bahwa dari sepuluh tali dia bisa panen hingga dua kwintal rumput laut kering. Jika sekilo dihargai Rp 8.500, maka uang yang diterima adalah sebesar Rp 1,7jt. Lumayan buat menambah penghasilan di sela-sela mencari ikan yang menjadi mata pencaharian utama. 
Menuju pantai untuk panen rumput laut

 Senangnya melihat wajah-wajah cerah mereka terhias dengan senyuman. Kali ini panennya berhasil setelah sebelumnya gagal karena terserang penyakit sehingga hasil panennya tidak memuaskan.

Hasil panen

Jumat, 25 Oktober 2013

Tidur


Seringkali saya heran ketika mendengar maupun membaca status di Facebook yang mengeluh pada susah tidur bahkan hingga menderita insomnia. Ya, karena Alhamdulillah saya hampir tidak pernah merasakan gangguan ini.

Saat masih SMA beberapa teman mengatakan sulit tidur karena sedang banyak masalah, entah karena beban pelajaran yang berat, kondisi ekonomi, putus cinta maupun lainnya.

Saat itu ketika menjelang tidur saya justru malah mikir, kenapa orang-orang itu pada sulit tidur, padahal kan tinggal berdoa dan kemudian memejamkan mata saja. Kalau ada masalah, ya hadapi dan coba cepat diselesaikan. Jika tak bisa segera beres, taruh dulu di lemari atau di bawah bantal. He he he..

Ada juga yang tidak nyenyak tidur kalau bukan di rumahnya sendiri, hingga akhirnya saat harus menginap di rumah atau tempat lain akan jadi siksaan tersendiri. Buat saya yang sering bepergian, ini nggak asyik banget. Bagi saya pergi dan menginap di tempat baru itu merupakan sensasi tersendiri. Resepnya cuma satu, nikmati saja semuanya. Simpel kan?

Bisa jadi saya bisa dengan mudah ngomong begini karena saya sejak kecil sudah terlatih tidur dimana saja. Ketika kecil saya sering diajak oleh Pak Wo  (kakek) tidur di mobil. Wah keren banget jaman segitu apalagi tinggal di desa tapi bisa punya mobil.

Tunggu dulu.. Bapak saya adalah seorang sopir honorer di kantor PU sehingga kalau pulang malam, mobil jeep pegangannya suka dibawa ke rumah. Maklum saja di Jogja saat itu kendaraan umum sudah menghilang bersamaan dengan tenggelamnya sang surya di ufuk barat, sehingga atas seijin atasannya mobil bisa dibawa pulang. Karena khawatir dengan keamanannya, maka pak Wo sering mengajak saya tidur di dalamnya. Kursi belakang dilipat, gelar tikar, tidur deh.

Selain tidur di mobil, saya juga suka tidur di emperan rumah simbah. Kebiasaan di desa selain menaruh kursi di emperan, biasanya juga ada amben (ranjang dari bambu dengan alas tikar pandan/mendong). Nah, kami biasanya akan ramai-ramai bersama simbah dan anak cucunya akan tidur di amben itu ditemani oleh secercah cahaya pelita (ting), kilauan bintang dan bisikan bangun malam. Bagi yang penakut bisa jadi suasana ini akan terasa horor. Tapi tidak bagi kami.

Kala musim panen tiba, ini akan menjadi keasyikan bagi kami yang masih anak-anak, karena inilah saatnya tidur di gubuk di tengah sawah. Apa lagi jika pas panen palawija, maka selain tidur di alam terbuka, akan ada acara bakar jagung maupun ketela.

Bagaimana dengan berkemah? Wah, ini sih favorit saya. Meskipun tak suka dengan kegiatan pramuka, tapi ketika musim camping tiba, maka saya akan menyambutnya dengan suka cita.

Sejalan dengan aktivitas saya sebelumnya yang menuntut harus mempunyai mobilitas yang tinggi, Alhamdulillah menambah pengalaman saya untuk tidur di berbagai tempat dengan berbagai kondisi.

Nah, ini ada beberapa tips agar nyenyak tidur ala saya :
1. Jangan tidur larut malam. Biasanya kalau jam sudah menunjukan pukul 22.00 wib, otomatis alarm tubuh saya akan memberi tanda.
2. Hindari minum kopi menjelang tidur. Kalau sudah lewat jam 17.00 wib, saya sudah stop ngopi.
3. Tutup pintu, jendela dan hordeng serta matikan lampu. Cahaya lampu akan menyilaukan mata sehingga tidak nyaman di mata.
4. Matikan tv, radio dan sejenisnya. Suasana yang tenang akan lebih mempercepat tidur.
5. Jangan lupa berdoa sebelumnya
6. Jika semua sudah dilakukan tapi masih juga susah tidur? Biasanya saya sambil merem kemudian berzikir hingga akhirnya akan terlelap dengan sendirinya.

Jadi kenapa juga masih susah tidur?



Jumat, 23 Agustus 2013

Mau Liburan Murah ke Pulau? Ayo ke Untung Jawa...!



Lebaran kali ini saya dan keluarga tidak mudik ke Jogja. Selain males bermacet-macetan, akhir Juni kemarin kami sudah liburan ke sana dan sempat mampir ke Dieng.

Mengingat anak-anak paling suka berenang dan ingin suasana lain,  tahu sendiri kan pantai di Ancol pasti padat kalau liburan seperti ini, mana airnyapun juga tak bersih. Setelah browsing cari referensi, akhirnya saya putuskan untuk liburan ke Pulau Untung Jawa yang berada di Kepulauan Seribu.


Pagi jam 07.30 kami start dari rumah di Depok. Rute yang diambil melalui tol dalam kota mengarah ke Bandara dan keluar di pintu tol Rawa Bokor. Tujuan kami adalah Dermaga Pantai Tanjung Pasir di Teluk Naga. Tak perlu khawatir tersesat karena di sepanjang jalan banyak petunjuk arahnya. Karena sebagian jalan ada perbaikan, total waktu yang ditempuh adalah selama 2,5 jam.

Sesampai di lapangan parkir yang cukup luas, sudah ada orang yang menawarkan perahu penyeberangan. Oh iya tarif masuk sekaligus parkir mobil di sini 24rb untuk 3 orang dewasa. Tak perlu khawatir meninggalkan kendaraan menginap, karena tempat ini dikelola secara resmi dan diberi tiket parkir sebagai tanda masuk. Jika ingin melepas dahaga, banyak terdapat pedagang es kelapa muda juga.

Dermaga Tanjung Pasir, Teluk Naga
Berhubung kami ingin segera sampai ke pulau, bergegas kami langsung menuju dermaga yang telah banyak berderet perahu yang bersandar menunggu penumpang. Kami pilih perahu yang agak besar karena anak saya Rayhan tampak agak ketakutan. Cukup lama juga kami menunggu karena perahu baru akan jalan jika sudah penuh. 

Di atas perahu, Rayhan tampat agak tegang.
Perlahan perahu mulai bergerak meninggalkan dermaga yang airnya kecoklatan. Makin jauh meninggalkan pantai, air laut pun berubah menjadi bening kebiruan. Hilir mudik perahu saling berpapasan membawa penumpang yang ingin berlibur sejenak melupakan hiruk pikuknya ibukota.  


Ini dia perahunya

Setelah perjalanan selama sekitar 30 menit, sampai juga kami di Pulau Untung Jawa dengan membayar 15rb per orang. Taraaa..! Dermaga telah tampak di depan mata. Ternyata di sekitarnya telah banyak pengunjung yang berenang di pantainya sehingga tampak ramai sekali. Untuk masuk ke pulau, tiap orang cukup membayar Rp 3.000 dan untuk anak-anak gratis.

Dermaga Pulau Untung Jawa
Meski lokasinya tak jauh dari Jakarta, air lautnya masih terlihat jernih biru kehijauan dan pantainya berpasir putih. Selain berenang, Bagi yang suka dengan permainan yang memacu adrenalin tersedia juga banana dan sofa boat dengan tarif Rp 25.000 per orang. Sedangkan sewa pelampung atau ban Rp 10.000 per orang. 


Suasana di pantai dengan latar belakang Dermaga

Jika ingin menginap, banyak homestay tersedia di sini dengan harga berkisar antara Rp 200-300 rb per kamarnya. Tapi makanan disini pilihannya terbatas. Meskipun di pulau, yang jual seafood hanya ada satu warung. Yang paling banyak adalah penjual gado-gado dan mie instant.  Tapi di sini ada makanan khas yang sangat saya suka yaitu keripik sukun yang rasanya gurih dan renyah. Selain untuk cemilan selama bersantai, juga bisa dijadikan untuk oleh-oleh.

Salah satu home stay
Pada saat menjelang senja, merapatlah ke sekitar dermaga. Di situ kita akan bisa melihat sunset yang spektakuler, tentu saja kalau cuacanya pas lagi cerah. Dengan latar depan perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar, momen terbenamnya matahari menjadi terlihat eksotis dan romantis.

Sunset
Nah, begitu pagi tiba, jangan bermalas-malasan kembali menarik selimut setelah sholat shubuh. Bergegaslah ke Pantai Timur untuk menunggu sunrise yang juga tak kalah cantiknya. Sambil menyeruput secangkir kopi dan ditemani semilir angin dan deburan ombak, menjadikan kita berasa sedang berada di pintu surga. Hehe.. Lebay ya.. Kita bisa juga menikmati rimbunnya hutan bakau dan jika beruntung akan bertemu dengan beberapa spesies burung yang mungkin tidak akan kita temui di Jakarta.

Menyongsong pagi
Bergembira ria

Saat berkeliling pulau, saya melihat bahwa potensi pariwisata disini telah dikelola dengan baik oleh warganya. Petunjuk jalan banyak dipasang diperempatan gang - karena jalannya memang cuma kecil tak bisa dilewati mobil, toko souvenir berupa kaos maupun cinderamata dari kerang, Puskesmasnya besar dan Masjidnya juga nyaman. Selain itu kebersihannya terjaga, penduduknya ramah dan keamanan juga cukup terjamin. Terbukti beberapa kali saya mendengar pengumuman telah ditemukannya tas atau dompet pengunjung dari pengeras suara. Motor warga juga diparkir begitu saja di luar rumah tanpa khawatir akan hilang. Ya iyalaah.. Kalau dicuri juga pasti ketahuan, kan keluarnya harus pakai perahu. Hehe.. 

Puskesmasnya cukup besar dan tampak modern
Petunjuk jalan
Intinya, tak bakalan rugi kita datang ke sini. Meskipun harus menyeberang pulau, tapi tak akan membuat kantong kita bolong dan bikin hati galau. Sebelumnya harap maklum kalau fotonya kurang jelas karena hanya diambil pakai BB. Soalnya yang bertugas mengurus properti lupa mengecharge baterai kamera dan chargernyapun lupa dibawa. Lengkap sudah, huhuhu...

Sedikit tips, berangkatlah pagi-pagi karena perahu reguler adanya antara jam 8-10 pagi. Bawalah bekal makan siang sendiri dan lauk yang tahan lama dan snack jika berniat menginap. Pulangnya jangan terlalu sore karena bisa jadi ombak telah meninggi.

Sabtu, 15 Juni 2013

Natuna, Keindahannya Sudah Terlihat Sejak di Udara (1)

Natuna di balik jendela pesawat

Mungkin selama ini kita hanya mengenal Natuna sebagai salah satu penghasil minyak dan gas. Bahkan konon kabarnya cadangan gas yang dimilikinya merupakan yang terbesar di dunia. Tapi selain itu ternyata pulau ini juga memiliki keindahan alam yang luar biasa.

Jika kita lihat di peta, akan tampak bahwa pulau yang merupakan salah satu batas paling utara Indonesia ini dikelilingi oleh laut dalam sehingga secara geografis menjadikannya sebagai pulau terpencil. Meskipun masih merupakan bagian dari Kepulauan Riau, tapi cenderung lebih dekat dengan wilayah Malaysia yaitu Kuching. Tak heran jika sebagian besar produk rumah tangga berasal dari Negara tetangga ini.

Untuk menuju Natuna bisa dilakukan melalui jalur laut maupun udara. Jika menggunakan pesawat, kita bisa memilih terbang dari Batam atau Pontianak. Rute Batam – Natuna akan dilayani oleh Wings Air yang terbang tiga kali seminggu, sedangkan Trigana Air melayani rute Pontianak – Natuna dua kali seminggu. 

Cabin penumpang ATR 72-500

Waktu saya ke sana, saya memilih berangkat dari Batam dengan waktu tempuh selama 1 jam 25 menit. Awalnya agak khawatir juga mengingat pesawat yang digunakan adalah pesawat kecil jenis ATR 72-500 dengan kapasitas 70 penumpang. Mengingat sepanjang perjalanan tak tampak hanyalah lautan, maka saya memilih untuk tidur saja karena tak banyak yang bisa saya lihat.
Kombinasi birunya laut dan hijaunya pepohonan
Begitu menjelang mendarat, saya melongok keluar jendela. Apa yang terlihat? Subhanallah, mata ini disuguhi awan yang putih bersih, birunya laut yang jernih dan juga hijaunya pepohonan yang menandakan bahwa pulau ini begitu subur.
Komplek Masjid Agung
 Tampak juga komplek Masjid Agung yang sangat luas dengan latar belakang Gunung Ranai yang gagah. Keindahan Masjid Agung yang menakjubkan ini nanti akan saya posting tersendiri.
Menjelang pendaratan
Nah, kalau dari atas saja sudah mengundang decak kekaguman, pasti ketika di daratan akan lebih menghebohkan.







Selasa, 21 Mei 2013

Blusukan Pulau Rote (3) : Hatiku Tertambat di Papela


Senja di Papela
Nama Papela mungkin belum akrab di telinga kita. Meski di daerah ini keindahan alamnya tak kalah dengan Pantai Nembrala yang terletak tak jauh dari ibukota Kabupaten  Rote Ndao yaitu Ba'a, tapi belum banyak wisatawan yang mengenalnya.

Papela adalah salah satu desa kecil yang terletak di sebelah tenggara Ba'a dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan kendaraan bermotor. Jalanan menuju tempat ini sangat sepi dan beraspal mulus. Saking sepinya, jangan heran jika di sepanjang perjalanan hanya akan bertemu tak sampai 5 mobil.

Separuh perjalanan akan melewati pinggir pantai di selingi ladang berumput tempat penggembalaan sapi, kuda maupun kambing. Jadi perjalanan jauh ini sama sekali tak terasa melelahkan. Karena hewan ternak di sini dilepas begitu saja, maka bukan hal aneh jika di tengah jalan tiba-tiba ada kambing maupun babi yang menyeberang jalan.

Penduduk Papela mayoritas adalah muslim, terdiri dari penduduk asli maupun pendatang yang sebagian besar berasal dari Buton dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Sedangkan penduduk asli ada menjadi petani maupun penyadap nira. Jika di daerah lain nira langsung diolah menjadi gula merah, di sini banyak yang dijual sebagai air gula seperti sirup.

Terletak di tepi pantai nan bersih dan berpasir putih dengan garis pantai yang melengkung, kita bisa melihat sunrise sekaligus sunset. Saat pagi hari, sunset bisa dinikmati di Pantai Tanjung maupun dari atas bukit. Ketika sore menjelang, dermaga merupakan tempat yang pas untuk menunggu sunset sembari memancing. Dermaga Papela biasanya digunakan untuk berlabuh saat Pelabuhan Ba'a tidak bisa dioperasikan karena gelombang tinggi di musim angin barat.

Bagi pecinta makanan laut, di sinilah surganya karena ikan-ikan segar yang baru ditangkap dengan mudah kita dapatkan dengan harga yang murah. Seekor ikan cakalang seberat sekitar 4 kg hanya dijual 30 ribu. Waoow..!

Selain panorama pantai, bagi yang menyukai tantangan bisa mengarungi lautan menuju Mulut Seribu. Di sana kita bisa menyusuri jalan laut si antara pulau-pulau yang berkelok-kelok laksana labirin. Makanya tempat ini dinamakan Mulut Seribu. Tak perlu khawatir akan tersesat karena nelayan setempat sudah hafal jalan keluar masuknya.  Tapi kita hanya bisa menuju ke sini pada saat gelombang laut sedang tenang dan bersahabat.

Mengingat belum ada penginapan, disarankan untuk menginap saja di rumah warga. Mereka akan dengan senang hati menerima kehadiran kita. Tapi saya sarankan jangan datang di saat musim kemarau, karena air akan sulit didapat, kecuali jika anda ingin merasakan sensasi mandi dan buang air di sungai. Hehe.. Oh iya, listrik juga tidak tiap saat menyala. Dalam sehari pasti ada waktu-waktu jedanya. Jadi jika ingin gadget kita selalu siap sedia, rajin-rajinlah untuk mengisi baterainya

Ingin mencicipi makanan khas selain ikan laut? Ada cemilan yang bernama susu goreng, yaitu susu yang dipanaskan bersama air gula nira hingga menjadi karamel. Ada juga kacang sembunyi, hampir seperti enting-enting berbentuk gulungan yang biasa ada di Jawa, tapi ada kacang tanah di dalamnya.

Ah, Papela.. Engkau selalu membuatku untuk datang lagi kesana. Menikmati kehidupan sederhana apa adanya, merasakan kesegaran udara, merasakan semilir angin di tengah nyiur yang melambai, bermain air di lautmu yang jernih berwarna biru kehijauan, mencari kerang, melihat bintang laut, makan ikan laut yang segar, bermain dengan perahu nelayan, memancing, bercanda dengan anak-anak pantai.. Rasanya aku telah berada di salah satu surga dunia nan eksotis yang tak akan pernah terlupa.



Ikan Lamadang setinggi orang

Pemandangan dari atas bukit

Bersama penduduk lokal dengan topi khasnya

Ibu-ibu menampung air dari bocoran pipa

Pantai Tanjung

Membantu suami mencari kayu bakar dan mengambil sadapan nira

Nelayan membuat perahu dan dijual seharga Rp 60 juta

Ladang penggembalaan


Bertemu bintang laut

Anak pantaipun pandai bergaya